Menengok PKBM: Ketika Anak-Anak yang "Tidak Baik-Baik Saja" Dipaksa Bertahan oleh Sistem




Pernahkah kita bertanya-tanya, ke mana perginya anak-anak yang putus sekolah, korban perundungan (bullying), atau mereka yang kesehatan mentalnya tumbang di sekolah formal?

Sebagian besar dari mereka bermuara di PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). Sebuah ruang yang sering kali dicap sebagai "pilihan kedua", padahal bagi para muridnya, PKBM adalah sekoci terakhir untuk bertahan hidup.

Fakta di lapangan menunjukkan realitas yang menyayat hati: Hampir semua murid yang masuk ke PKBM adalah mereka yang sedang tidak baik-baik saja.


Berjuang Melawan Diri Sendiri, Dituntut oleh Sistem

Masing-masing anak membawa luka. Ada yang sedang menyembuhkan trauma akibat lingkungan sekolah terdahulu, ada yang berjuang melawan kecemasan akut, dan ada pula yang harus bekerja demi menyambung hidup keluarga. Mereka adalah anak-anak yang setiap harinya harus berjuang hebat, bahkan hanya untuk berdamai dengan diri mereka sendiri.

Namun, di tengah rapuhnya kondisi psikologis dan sosial tersebut, sebuah ironi besar terjadi. Bagaimana mungkin mereka yang sedang tertatih-tatih menyembuhkan diri, juga harus dipaksa berjuang habis-habisan menuntaskan akademik?

Jawabannya klasik: Karena tuntutan sistem di negara ini.

Sistem pendidikan kita sering kali tidak mau tahu proses penyembuhan apa yang sedang dilalui seorang anak. Sistem hanya peduli pada angka di atas kertas, ketuntasan kurikulum, dan selembar ijazah sebagai syarat administratif untuk bertahan hidup di masa depan. Akibatnya, PKBM yang seharusnya menjadi ruang aman untuk pulih, terkadang berubah menjadi mediatisasi beban baru demi menggugurkan kewajiban negara.


Memanusiakan Manusia dalam Pendidikan

Kita tidak bisa terus-menerus menutup mata. Pendidikan seharusnya membebaskan, bukan memperberat beban jiwa yang sudah sarat dengan luka. Anak-anak di PKBM tidak membutuhkan standardisasi kaku yang menyamaratakan semua kemampuan fisik dan mental. Mereka membutuhkan fleksibilitas, empati, dan ruang untuk bernapas.

Sudah saatnya sistem pendidikan di negara ini melihat murid PKBM bukan sebagai angka statistik pemenuh wajib belajar 12 tahun, melainkan sebagai manusia utuh yang butuh diselamatkan masa depannya—baik secara akademik maupun mental.

Sebab, apa gunanya selembar ijazah kelulusan jika diraih dengan mengorbankan kewarasan seorang anak manusia?

Wahyuni_Tutor Kesetaraan

Posting Komentar

0 Komentar